Tugas Tema 3 topik 3 Pendidikan Inklusif Mahir : Mengkritisi Kapasitas Profesional Anda dalam Coaching (Program Magang)

DOKUMEN 1

DRAF RENCANA AKSI COACHING MAGANG

Identitas

Keterangan

Uraian

Nama

Moh Rizal, S.Pd.

Sekolah

SMP Negeri 2 Kasimbar

Program

Magang Coaching Pendidikan Inklusif

Model Coaching

CARE

Fokus Coaching

Meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran inklusif bagi murid yang mengalami kecemasan berlebih

 

 

A. Kesepakatan Coaching

Komponen

Kesepakatan

1. Waktu Perencanaan

Dilaksanakan pada hari pertama magang bersama Coach Magang, Guru Pendamping, dan guru peserta coaching untuk menyepakati tujuan, fokus coaching, indikator keberhasilan, jadwal, serta teknik observasi.

2. Frekuensi dan Durasi Pertemuan

Coaching dilaksanakan sebanyak tiga sesi utama (Hari ke-3, Hari ke-6, dan Hari ke-9) dengan durasi 60–90 menit, disertai observasi kelas dan refleksi setelah implementasi.

3. Durasi Kerja Sama Coaching

Coaching berlangsung selama 10 hari berturut-turut selama program magang.

4. Tanggal Peninjauan

Peninjauan dilakukan pada Hari ke-5 (evaluasi sementara) dan Hari ke-10 (evaluasi akhir) bersama Coach Magang dan Guru Pendamping.

5. Kerahasiaan

Semua informasi hasil observasi, diskusi, dan refleksi dijaga kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk kepentingan pengembangan profesional guru.

 

 

 

 

B. Rencana Aksi Coaching Menggunakan Model CARE

Hari

Komponen CARE

Aktivitas

Pertanyaan Coaching

Luaran

1

Community

Koordinasi dengan Kepala Sekolah, Coach Magang, Guru Pendamping, dan guru peserta coaching. Menyepakati tujuan coaching.

Apa harapan Bapak/Ibu dari proses coaching ini? Siapa saja yang dapat mendukung proses ini di sekolah?

Kesepakatan coaching

2

Critical & Content Thinking

Observasi pembelajaran, mengumpulkan data perilaku murid, strategi pembelajaran, serta hasil belajar.

Apa tantangan utama yang Bapak/Ibu hadapi saat mendampingi Rofida? Data apa yang menunjukkan hal tersebut?

Data awal dan hasil observasi

3

Appreciative Perspective

Coaching pertama. Mengidentifikasi kekuatan guru sebelum membahas area pengembangan.

Menurut Bapak/Ibu, praktik apa yang sudah berhasil? Kekuatan apa yang dapat menjadi modal untuk membantu Rofida?

Fokus pengembangan guru

4

Experiential Learning

Guru menerapkan strategi hasil coaching di kelas.

Strategi apa yang akan dicoba hari ini? Bagaimana cara mengetahui bahwa strategi tersebut berhasil?

Implementasi strategi

5

Reflection

Refleksi bersama berdasarkan hasil implementasi pertama.

Apa perubahan yang sudah terlihat? Apa yang masih menjadi tantangan?

Evaluasi sementara

6

Community + Appreciative Perspective

Coaching kedua bersama Coach Magang dan Guru Pendamping. Mengembangkan strategi lanjutan berdasarkan kekuatan guru.

Siapa yang dapat membantu Bapak/Ibu menerapkan strategi ini secara berkelanjutan?

Rencana tindak lanjut

7

Experiential Learning

Guru menerapkan strategi hasil revisi di kelas.

Apa yang berbeda dibanding pembelajaran sebelumnya?

Implementasi kedua

8

Critical Thinking

Observasi lanjutan dan analisis perubahan perilaku murid serta praktik guru.

Data apa yang menunjukkan adanya perubahan? Apa buktinya?

Data perkembangan

9

Reflection

Refleksi akhir coaching bersama guru.

Apa pembelajaran paling bermakna selama coaching? Strategi apa yang akan terus digunakan?

Komitmen tindak lanjut

10

Community

Evaluasi bersama Coach Magang, Guru Pendamping, dan guru peserta coaching. Penyusunan RTL.

Bagaimana sekolah dapat mendukung keberlanjutan praktik ini?

Laporan dan RTL

 


 

DOKUMEN 2

RANCANGAN TEORI TINDAKAN (THEORY OF ACTION)

 

Judul

Penerapan Coaching Model CARE untuk Meningkatkan Praktik Pembelajaran Inklusif Guru dalam Mendampingi Murid yang Mengalami Kecemasan Berlebih

 

Latar Belakang

Berdasarkan hasil observasi awal, guru telah menunjukkan kepedulian terhadap murid, tetapi masih mengalami kesulitan menentukan strategi pembelajaran yang tepat bagi murid yang mengalami kecemasan berlebih ketika berinteraksi dengan guru. Kondisi ini berdampak pada rendahnya partisipasi murid dalam pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan coaching menggunakan model CARE agar guru mampu mengembangkan praktik pembelajaran yang lebih reflektif, berbasis data, dan berorientasi pada kebutuhan murid.

 

Teori Tindakan

Komponen

Uraian

Masalah

Guru belum optimal menerapkan strategi pembelajaran yang mampu mengurangi kecemasan murid.

Input

Data hasil observasi, hasil refleksi guru, coaching CARE, dukungan Coach Magang dan Guru Pendamping.

Proses

Coaching dilaksanakan melalui lima komponen CARE: Community, Critical & Content Thinking, Appreciative Perspective, Reflection, dan Experiential Learning.

Output

Guru mampu merefleksikan praktiknya, memanfaatkan data, serta menerapkan strategi pembelajaran yang lebih inklusif.

Outcome

Murid lebih nyaman mengikuti pembelajaran, kecemasan berkurang, partisipasi meningkat, dan hasil belajar lebih baik.

Pernyataan Teori Tindakan

Jika guru mengikuti coaching menggunakan model CARE yang didukung observasi kelas, refleksi berbasis data, pengalaman praktik di kelas, serta kolaborasi dengan Coach Magang dan Guru Pendamping, maka guru akan semakin mampu merancang dan menerapkan pembelajaran yang responsif terhadap kebutuhan murid, sehingga tercipta lingkungan belajar yang lebih inklusif dan hasil belajar murid meningkat.

 

Indikator Keberhasilan

  • Guru menggunakan data hasil observasi sebagai dasar pengambilan keputusan.
  • Guru mampu melakukan refleksi secara mandiri.
  • Guru menerapkan strategi pembelajaran yang lebih inklusif.
  • Murid menunjukkan penurunan kecemasan saat berinteraksi dengan guru.
  • Partisipasi dan keterlibatan murid dalam pembelajaran meningkat.

 


 

DOKUMEN 3

DRAF INKUIRI COACHING

 

Judul

Inkuiri Coaching untuk Meningkatkan Praktik Pembelajaran Inklusif Melalui Model CARE

Tujuan

Meningkatkan kompetensi guru dalam menerapkan pembelajaran inklusif bagi murid yang mengalami kecemasan berlebih melalui proses coaching berbasis CARE.

Siklus Inkuiri

Kegiatan

Keterkaitan dengan CARE

1. Mengembangkan

Menentukan fokus coaching berdasarkan hasil observasi awal dan kebutuhan guru.

Community

2. Menjelajah

Mengumpulkan data melalui observasi kelas, wawancara guru, refleksi guru, dan catatan perkembangan murid.

Critical & Content Thinking

3. Mengajukan Pertanyaan (Inkuiri)

Mengapa murid masih menunjukkan kecemasan? Strategi apa yang telah berhasil? Apa yang perlu diperbaiki?

Appreciative Perspective

4. Merencanakan

Menyusun strategi pembelajaran dan rencana implementasi berdasarkan hasil coaching.

Reflection

5. Menerapkan

Guru menerapkan strategi pembelajaran di kelas, sementara coach melakukan observasi.

Experiential Learning

6. Merefleksikan

Guru dan coach mengevaluasi hasil implementasi, menyusun tindak lanjut, dan menetapkan target coaching berikutnya.

Reflection & Community

 

 

 

Data yang Dikumpulkan

Jenis Data

Metode

Hasil observasi pembelajaran

Observasi kelas

Refleksi guru

Wawancara

Perubahan perilaku murid

Catatan anekdot

Hasil belajar murid

Analisis dokumen

Dokumentasi kegiatan

Foto dan jurnal coaching

 

Indikator Keberhasilan

  1. Guru mampu melakukan refleksi berbasis data.
  2. Guru menerapkan strategi pembelajaran inklusif secara konsisten.
  3. Murid menunjukkan penurunan kecemasan ketika berinteraksi dengan guru.
  4. Terjadi peningkatan partisipasi murid dalam proses pembelajaran.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar