Asesmen Tema 3 Topik 2

Coaching dengan Model CARE

 

Disusun oleh               :Moh Rizal, S.Pd.
Jabatan                        : Guru Matematika

Instansi                        : SMP Negeri 2 Kasimbar

1. Manfaat dan Tantangan Penggunaan Coaching dengan Model CARE

Coaching dengan model CARE (Community, Critical and Content Thinking for Learning, Appreciative Perspective for Learning, Reflection to Inform Learning, dan Experiential Learning) merupakan pendekatan coaching yang menempatkan guru sebagai pembelajar aktif yang memiliki kapasitas untuk berkembang melalui refleksi, kolaborasi, dan pengalaman nyata. Model ini tidak berfokus pada kekurangan guru, tetapi membantu guru mengenali kekuatan yang dimiliki dan mengembangkannya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran (Wetzel et al., 2017).

Salah satu manfaat model CARE adalah mendorong guru untuk belajar secara kolaboratif melalui komunitas belajar profesional. Pada komponen Community, guru tidak bekerja sendiri, melainkan dapat memanfaatkan dukungan dari rekan sejawat, kepala sekolah, guru BK, maupun komunitas belajar lainnya. Dalam konteks pendidikan inklusif, kolaborasi ini sangat penting karena kebutuhan setiap murid sangat beragam dan sering kali memerlukan perspektif dari berbagai pihak.

Manfaat berikutnya adalah mendorong guru untuk berpikir kritis terhadap praktik pembelajaran yang dilaksanakan. Melalui komponen Critical and Content Thinking, guru diajak mengkaji kembali strategi pembelajaran yang digunakan, menganalisis data tentang perkembangan murid, dan memastikan bahwa keputusan pembelajaran benar-benar didasarkan pada kebutuhan murid. Guru tidak hanya mengandalkan intuisi, tetapi juga menggunakan data dan bukti untuk menentukan intervensi yang tepat.

Komponen Appreciative Perspective for Learning juga memberikan manfaat yang besar karena coaching dimulai dengan mengidentifikasi kekuatan dan praktik baik yang telah dilakukan guru. Pendekatan ini menciptakan suasana yang positif dan aman sehingga guru lebih terbuka dalam menerima umpan balik dan melakukan perbaikan. Selain itu, Reflection to Inform Learning membantu guru mengembangkan kebiasaan reflektif. Guru diajak menganalisis pengalaman mengajarnya secara mendalam sehingga dapat menemukan alternatif solusi yang lebih sesuai dengan kebutuhan murid.

Selanjutnya, Experiential Learning memungkinkan guru belajar melalui pengalaman nyata di kelas. Guru dapat mencoba strategi baru, mengevaluasi hasilnya, kemudian melakukan perbaikan secara berkelanjutan. Pembelajaran yang berbasis pengalaman ini menjadikan coaching lebih kontekstual dan berdampak langsung terhadap praktik mengajar.

Meskipun demikian, penerapan model CARE juga memiliki beberapa tantangan. Tantangan pertama adalah membangun budaya refleksi dan keterbukaan. Tidak semua guru terbiasa mendiskusikan praktik mengajarnya secara terbuka. Sebagian guru masih menganggap coaching sebagai proses penilaian sehingga cenderung defensif ketika menerima umpan balik.

Tantangan berikutnya adalah keterbatasan waktu. Proses coaching yang efektif membutuhkan observasi, refleksi, diskusi, dan tindak lanjut secara berkelanjutan. Di tengah berbagai tugas administrasi dan beban mengajar, menyediakan waktu khusus untuk coaching sering menjadi kendala.

Selain itu, coach juga dituntut memiliki keterampilan komunikasi yang baik. Coach perlu mampu mendengarkan secara aktif, mengajukan pertanyaan reflektif, dan membangun hubungan yang saling percaya. Tanpa keterampilan tersebut, coaching berisiko berubah menjadi kegiatan memberikan saran secara sepihak dan kehilangan esensi kolaboratifnya. Oleh karena itu, keberhasilan penerapan model CARE tidak hanya ditentukan oleh pemahaman terhadap konsepnya, tetapi juga oleh komitmen seluruh pihak untuk membangun budaya belajar bersama yang berpusat pada perbaikan praktik pembelajaran.

 

2. Nilai Personal, Nilai Profesional, Praktik, dan Keterampilan dalam Menerapkan Coaching dengan Model CARE

Sebagai seorang guru, saya memandang coaching dengan model CARE sejalan dengan nilai personal yang saya yakini, yaitu empati, kesabaran, dan kemauan untuk terus belajar. Dalam mendampingi guru maupun murid, saya percaya bahwa setiap individu memiliki potensi untuk berkembang ketika diberikan kesempatan untuk merefleksikan pengalaman dan memperoleh dukungan yang tepat. Nilai empati membantu saya memahami bahwa setiap guru memiliki latar belakang, pengalaman, dan tantangan yang berbeda. Oleh karena itu, coaching seharusnya menjadi ruang yang aman untuk belajar bersama, bukan tempat untuk menghakimi.

Dari sisi nilai profesional, saya meyakini bahwa seorang pendidik perlu mengembangkan budaya kolaborasi, refleksi, dan pembelajaran sepanjang hayat. Model CARE menempatkan guru sebagai pembelajar profesional yang secara terus-menerus mengevaluasi praktiknya berdasarkan data dan pengalaman nyata. Nilai ini sangat relevan dengan tuntutan pendidikan inklusif yang mengharuskan guru mampu merancang pembelajaran yang responsif terhadap kebutuhan setiap murid.

Dalam praktik sehari-hari, saya telah terbiasa melakukan refleksi terhadap pembelajaran dan berdiskusi dengan rekan sejawat mengenai berbagai permasalahan yang dihadapi di kelas. Pengalaman mendampingi murid yang memiliki kebutuhan belajar tambahan, termasuk murid yang mengalami kecemasan berlebih, membuat saya menyadari pentingnya memahami kondisi individu sebelum menentukan strategi pembelajaran. Pengalaman tersebut menjadi modal yang baik dalam menerapkan coaching dengan model CARE karena saya lebih terbiasa menggunakan data hasil observasi dan refleksi sebagai dasar pengambilan keputusan.

Meskipun demikian, saya juga menyadari masih terdapat beberapa keterbatasan dalam diri saya. Saya masih memiliki kecenderungan untuk memberikan solusi secara langsung ketika melihat suatu permasalahan. Padahal, esensi coaching adalah membantu peserta coaching menemukan sendiri solusi yang paling sesuai dengan konteks yang dihadapinya. Selain itu, saya masih perlu meningkatkan kemampuan mengajukan pertanyaan reflektif yang dapat menggali pemikiran peserta coaching secara lebih mendalam.

Saya juga perlu mengembangkan keterampilan mendengarkan secara aktif. Selama ini, saya sering lebih fokus pada solusi yang ingin disampaikan dibandingkan memahami sepenuhnya perspektif lawan bicara. Dalam model CARE, kemampuan mendengarkan menjadi keterampilan yang sangat penting karena membantu coach memahami pengalaman, kebutuhan, dan kekuatan peserta coaching.

Pengalaman mempelajari model CARE membuat saya semakin yakin bahwa coaching bukan sekadar percakapan profesional, melainkan proses belajar bersama yang membutuhkan kesabaran, kerendahan hati, dan komitmen untuk terus berkembang. Ke depan, saya ingin lebih banyak berlatih memfasilitasi percakapan reflektif, memperkuat kemampuan menggunakan data dan bukti sebagai dasar coaching, serta membangun budaya kolaboratif di sekolah. Dengan demikian, saya berharap dapat menerapkan coaching dengan model CARE secara lebih efektif sehingga mampu membantu guru meningkatkan praktik pembelajaran dan pada akhirnya memberikan dampak positif bagi keberhasilan semua murid, termasuk murid yang memiliki kebutuhan belajar tambahan.



Daftar Pustaka

 

Shulman, L. S. (1986). Those who understand: Knowledge growth in teaching. Educational Researcher, 15(2), 4–14.

Van Diggelen, M. R. (2021). Learning by doing in professional education. Routledge.

Wetzel, M. M., Hoffman, J. V., & Maloch, B. (2017). Coaching teachers to support students: A framework for reflective practice. Teachers College Press.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar